Kenduri Nyadran Gusti Pangeran Cempo dilatarbelakangi oleh sejarah
berdirinya Padukuhan Jetis Baran. Proses pelaksanaan kenduri diawali dengan
adanya bergodo Pangeran Cempo berupa tumpeng pada umumnya yang berisi
hasil bumi, ingkung, sayuran dan lain sebagainya yang kemudian diarak oleh
prajurit Pangeran Cempo. Ingkung yang disajikan diatur dengan tiap RT giliran
bertugas untuk membuat, membawa ingkung dan isi judang, dan lain-lain.
Uborampe (perlengkapan) tumpeng di antaranya sekul sari, ulamsari, sego
tumpeng sudah siap dan menggunakan peralatan judang untuk membawa
bergodo dan diberikan kepada Pak Rois untuk didoakan.
Sebelum dimulai, terdapat pembacaan laporan oleh manggolo yudho
(komandan pasukan) lalu setelahnya memutari seluruh kampung untuk diberikan
doa rahmat dari Tuhan. Barang-barang yang didoakan kemudian diberikan kepada
para hadirin yaitu ingkung dibagi rata untuk para laki-laki dan perempuan beserta anak-anak mendapat sangu yang dibawa dari rumah. Setelah pembagian, kemudian mulai tahapan kenduri bersama menggunakan kalimat thoyyibah
beserta ayat Al-Qur’an, kemudian diadakan tahlil dan pengajian singkat. Lalu,
masyarakat berbondong masuk ke makam Pangeran Cempo untuk menabur bunga
mawar dan kembang setaman, bahkan beberapa ada juga yang menaruh dupa.
Kemudian bunga tersebut juga disebar di makam keluarga masing-masing.
Selepas dari makam, masyarakat mengadakan makan bersama (ondrowino) dan
disebarkan sebuah infaq/buntel gajah. Kenduri ini tidak hanya eksis di Jetis Baran,
tetapi juga menyebar hingga se-kapanewon Ngaglik. (sumber : Laporan Kegiatan
magang-Aurora)
