Asal Usul Padukuhan Dayakan

December 12, 2025

DAPOBUD-OPK: Tradisi Lisan,

Padukuhan Dayakan berada di wilayah Kalurahan Sardonoharjo,
Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman. Menurut narasumber Pak Suripto (Rois),
Padukuhan Dayakan diambil dari nama pohon dayak yang dulu berukuran besar
dan tinggi, berada di sebelah utara padukuhan dan ada sumber mata air/umbul.
Konon, sesepuh mengatakan “daerah ini diberi nama Dayakan saja” ucap Pak
Suripto. Namun saat ini keberadaan pohon dayak sudah tidak ada.

Pak Warsito menyebut daun pohon dayak seperti daun melinjo, biji seperti
parijotho, bulir-bulir putih dan bisa menjulang tinggi seperti pohon kedoya. Pohon
Dayak punah karena pelapukan alami.
Menurut Warta Sardonoharjo Edisi VII Juni 2022, ada seorang resi melawan
raksasa jahat penunggu hutan yang banyak dipenuhi pohon dayak. Setelah raksasa
kalah, masyarakat bisa mengolah sawah. Sang resi berpesan agar kelak wilayah
tersebut dinamakan Dayakan.

Lokasi pohon dayak ditumbuhi pohon-pohon tinggi, semak belukar, disebut
wingit. Manfaat umbul/mata air dekat pohon dayak jadi berkah warga. Menurut Pak
Padana, air umbul jernih untuk keperluan sehari-hari, bermain anak-anak, dan
pengairan sawah. Saat ini tidak terlihat karena tertutup beton-beton perumahan,
tampak tumbuhan alang-alang.

Pada saat penjajahan Belanda, mereka merekrut tenaga dari kaum pria.
Menurut Pak Suripto, lahan di Padukuhan Dayakan berkat perjuangan para Kuli
Sanga. Salah satunya Mbah To Diryo atau Mbah Paijan, kakek Pak Suripto. Para
sesepuh Kuli Sanga membuka lahan untuk pertanian dan pemukiman. Lambat
laun, banyak orang berdatangan untuk bermukim. Penduduk saat itu sebagian
besar petani.

Di Padukuhan Dayakan terdapat Watu Ledek yang menurut Pak Suripto,
berawal dari kisah ledhek wanita yang terkenal cantik. Setelah acara tayub, dia
dikepung sejumlah pria dan ledek tersebut akhirnya meninggal. Arwahnya
bersemayam dalam batu besar yang tidak menyentuh tanah, tetap tegap berdiri
meski banjir atau gempa. Dulu, terdengar suara gamelan dari batu tersebut, kini
tidak terdengar lagi.

Saat ini, penduduk Padukuhan Dayakan masih menjaga kebudayaan
warisan leluhur. Diadakan merti desa bulan Safar, khataman Al-Quran, misa, kirab
hasil bumi, hadrah, dan jathilan. Ada dua kelompok jathilan: Kuda Lumping Putra
Ragil RW 35 dan Satria Utama RW 36. (sumber : SID Sardonoharjo)