
Sumber: Sanggar Banyu Bening dan Narasumber (Pak Sigit)
Tari Riris Mangenjali (“riris” berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti hujan) merupakan tari tradisional yang dilakukan oleh para remaja belia/perawan yang dimaknai sebagai wujud permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan air hujan yang bermanfaat bagi manusia. Air hujan yang turun dapat dimanfaatkan sebagai obat, pelepas dahaga, dan air yang digunakan untuk nilai khusus. Alasan harus ditarikan oleh remaja perawan adalah sebagai tanda kesucian hati, kedalaman hati, dan sebagai bukti estafet dari perjuangan orang tua untuk memberikan ilmu atau pemahaman tentang air kepada generasi selanjutnya. Setiap gerakan dari Tari Riris Mangenjali mengandung unsur kebanggaan dan terima kasih kepada Tuhan dengan alunan yang syahdu menunjukkan keteduhan dan kesucian hati untuk menerima limpahan karunia. Gerakan yang lemah gemulai dan lunglai diibaratkan simbol kepolosan hati dalam berdoa agar air yang diberikan betul-betul bermanfaat. Properti yang digunakan dalam tarian ini di antaranya kendi, alunan/taburan bunga segar seperti roncean melati dan mawar yang diletakkan di setiap pojok panggung (papat panjer) yang dipadukan dengan pakaian dengan budaya gagrak Jawa, Mataraman, kain lurik, dan batik Sidoluhur. Remaja penari yang masih muda tersebut juga menjadi pemeran dalam rangkaian Kenduri Banyu Udan. Proses pelaksanaan tarian diawali dengan dua remaja bersolek berbahagia dengan adanya banyu udan (air hujan) dan bergerak menunjukkan rasa bangga kepada Tuhan agar diberikan air hujan yang bermanfaat.
