Oleh: Indri Wijayanti

 

Sebenarnya, apa sih literasi itu?

Literasi memiliki cakupan yang sangat luas, meliputi aktivitas mengeja, memahami bacaan, menulis, mengenali alfabet dan suku kata, behkan lebih jauh lagi, literasi juga berbicara tentang kemampuan seseorang untuk mengambil kesimpulan melakukan analisis sekaligus mengkritisi apa yang ia baca. Sayangnya, di Indonesia makna literasi yang luas cakupannya dipersempit menjadi hingga hanya seputar membaca, menulis, dan berhitung (calistung).

Literasi berbeda dengan calistung. Literasi merupakan pondasi awal dari kemampuan calistung anak bertahun-tahun mendatang, sehingga tidak sekadar calistung. Literasi bukan hanya soal kemahiran anak untuk mengingat huruf dan mengeja suku kata. Lebih dari itu, literasi mencakup bagaimana anak bisa mengambil kesimpulan, menganalisis, bahkan mengkritisi apa yang ia baca atau dapatkan dari lingkungan sekitarnya.

Selama ini kita terbiasa dengan pola piker (mindset) bahwa lancar mengeja huruf seperti “ba-ca bu-ku” adalah tingkatan tertinggi dari literasi. Maka tidak heran jika ada orang tua yang sangat panik ketika anak-anaknya belum bisa membaca.

Lancar membaca dianggap sebagai tujuan (goal) utama dari membaca (literasi). Namun, faktanya tidak demikian. Sekedar bisa membaca justru merupakan tahap terendah dari perjalanan literasi anak-anak kita.

Sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh PISA (Program for International Student Assesment) yang sempat ramai dibicarakan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, , Nadiem Makarim, ditemukan bahwa kemampuan literasi rata-rata siswa di Indonesia (kelas 5-6 SD) berada di kelompok 1A. Kelompok 1A adalah kategori dimana kemampuan literasi baru sampai pada tahap bisa membaca dan bisa mengartikan hal-hal eksplisit dari apa yang dibaca. Kesimpulannya, siswa kelas 5−6 SD di Indonesia bahkan belum bisa menarik kesimpulan implisit dari bahan bacaan mereka.

Lalu, apa yang salah dengan cara orang tua mengajarkan literasi kepada anak-anak pada umumnya? Sudah sejauh mana kita sebagai orang tua memahami makna literasi sesungguhnya? Semua dikembalikan pada diri kita sebagai orangtua di rumah. Mari sama-sama mengevaluasi, sejauh apa kita mengupayakan lingkungan yang kaya literasi di rumah?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *