Terdapat beberapa versi asal-usul Sendang Perwitosari ini. Salah satu yang
paling sering dibicarakan oleh warga sekitar adalah bahwa dahulu kala disini
adalah tempat mandi para bidadari. Para bidadari gemar mandi di tempat ini
karena mata air ini dahulu dikelilingi dengan pohon yang sangat rindang. Saking
gemarnya para bidadari untuk membasuh diri, para bidadari tersebut memberkahi
dan memohon kepada Sang Hyang Widhi agar mata air ini selalu mengalir menjadi
sumber penghidupan bagi masyarakat. Seiring waktu berjalan, beberapa orang
datang mendekati sumber air ini untuk menetap. Beberapa pohon di sekitar mata
air ini masih hidup dan tumbuh memayungi Sendang Perwitosari ini hingga saat
ini. Di bagian pojok Sendang Perwitosari ini juga dibangun arca dan tempat dupa
untuk menghormati cerita rakyat tersebut.
Versi lain terkait asal-usul Sendang Perwitosari ini sudah dipengaruhi unsur
budaya Islam. Diceritakan bahwa Sendang Perwitosari ini dahulu ada tempat
singgah para Wali yang akan berdakwah ke lereng Gunung Merapi yang masih
dipengaruhi agama Hindu. Para Wali singgah di tempat ini untuk beristirahat,
melaksanakan, solat, dan berwudhu di tempat ini. Saking seringnya tempat ini
dijadikan tempat singgah dan beribadah para Wali, Sendang Perwitosari
mendapatkan karomahnya sendiri. Para Wali pun juga mendoakan agar mata air
ini dapat memberikan manfaat bagi warga sekitar. (sumber : Joko R)
Jaladwara
Jaladwara merupakan talang air yang digunakan pada struktur candi atau
petirtaan (tempat pemandian suci) di masa lalu. Umumnya, jaladwara berbentuk
hewan atau makara. Pada pembahasan ini, terdapat sebuah jaladwara di
Sendang Perwitosari yang diletakkan bersebelahan dengan sebuah yoni dan dua
batu andesit yang diduga merupakan batu petirtaan sebelum bentuknya diubah
seperti bentuk di masa kini. Sayangnya, jaladwara tersebut terkena bias karena
lepas dari konteks lokasi yang mana Sendang Perwitosari berada di bawah
sedangkan jaladwara beserta yoni dan batu diletakkan di atas atau halaman
sendang. Selain itu, tempat keluarnya air yang seharusnya menjadi tempat
jaladwara diubah menggunakan paralon sehingga perlu merekonstruksi ulang
bagaimana posisi jaladwara tersebut ketika sendang atau petirtaan digunakan di
masa lalu. Jaladwara yang berada di sendang ini memiliki bentuk arca tanpa
kepala di bagian depan serta terdapat ukiran motif sulur di bagian bawah depan
dan samping.
Ukuran dari jaladwara tersebut sekitar 35 cm dan tinggi sekitar 30 cm. Saat
ini, belum diketahui pasti apakah jaladwara yang berada di Sendang Perwitosari
hanya dibiarkan di halaman sendang atau dalam proses pendataan. Akan tetapi,
jika dilihat berdasarkan hasil survei terdapat jejak sesajen di depan jaladwara
sehingga dimungkinkan masyarakat sekitar menggunakannya sebagai tempat
ritual tertentu. Terbukti hingga kini, Relief peninggalan benda purbakala berupa jaladwara (tempat keluarnya aliran air/pancuran) dan beberapa bebatuan candi
di sekitar sendang perwitosari.
Yoni dan Batu Andesit Bekas Petirtaan
Yoni di masa Klasik Indonesia (Hindu-Buddha) merupakan simbol wanita
sehingga dalam pemaknaannya dianggap sebagai kekuatan feminin dan
kesuburan. Biasanya, yoni dipasangkan dengan lingga yang menjadi simbol
maskulin. Keduanya berfungsi sebagai sarana pemujaan terhadap Dewa Siwa
dan Dewi Parwati.
Ketika berkunjung ke Sendang Perwitosari, terdapat sebuah yoni yang
diletakkan bersebelahan dengan jaladwara dan dua buah batu andesit. Yoni
tersebut berukuran lebih kecil dibanding yoni yang umumnya ditemukan di candi.
Tidak diketahui pasti bagaimana posisi yoni di sendang tersebut dikarenakan
telah lepas dari konteks bersama dengan jaladwara dan batu andesit. Sedang
demikian, dua buah batu andesit yang ditemukan diduga kuat merupakan bekas
petirtaan yang kini dinding-dinding dari petirtaan atau sendang telah diubah
menggunakan tembok semen yang mana sama halnya dengan yoni yang telah
bias dari konteks asli. (sumber : aurora)
