“Ini sih hari jalan sehat se-Indonesia Raya!” Saya Kembali teringat dengan gurauan yang muncul ketika saya dan beberapa tetangga berada di antara rombongan peserta jalan sehat bersama warga dusun lainnya. Di tengah perjalanan, kami berjumpa dengan peserta dari berbagai dusun yang melintasi rute yang sama. Semarak perayaan kemerdekaan di bulan Agustus rasanya memang kurang lengkap tanpa agenda jalan sehat, termasuk yang diselenggarakan di berbagai dusun di Sardonoharjo.

Di balik keseruannya, kebiasaan jalan sehat ini mengingatkan saya pada rutinitas jalan pagi yang sering saya lakukan. Saya merasakan bahwa jalan sehat tidak hanya bermanfaat untuk menjaga kebugaran fisik, tetapi juga sebagai sarana slow down atau melambatkan langkah dari rutinitas yang serba cepat. Ketika berjalan kaki dengan santai, baik saat olahraga maupun sekadar berjalan untuk refreshing dan cuci mata, saya bisa mengamati detail-detail kecil di sekitar yang selama ini sering terlewat begitu saja akibat terburu-buru.

Kebiasaan jalan pagi sambil menikmati detail lingkungan sekitar, belakangan juga makin populer dengan kemunculan tren walking tour yang tengah masif di wilayah DIY. Secara sederhana, walking tour adalah kegiatan jalan-jalan santai menyusuri rute tertentu secara berkelompok, sambil menikmati suasana, mengamati potensi wilayah setempat, hingga belajar sejarah lokal. Menariknya, kegiatan ini juga menyimpan potensi ekonomi di wilayah yang dilalui. Rute jalan kaki di tempat tersebut bisa dikemas menjadi agenda wisata alternatif yang menggerakkan UMKM lokal, mulai dari belajar budaya lokal, mampir ke warung kopi atau kuliner khas, hingga melirik produk kerajinan warga setempat.

Selama berjalan pagi di beberapa wilayah Sardonoharjo, saya juga beberapa kali merasakan sensasi seolah-olah sedang ikut walking tour. Melambat untuk lebih dekat dengan tanah kelahiran. Misalnya, belajar tentang Sendang Perwitosari di Gondangan yang sampai hari ini masih menghadirkan manfaat bagi warga sekitarnya, merasakan sejuknya area persawahan di pinggir Sungai Boyong di Dusun Blekik yang memanjang ke selatan, melihat sisi lain warung mi ayam legendaris Lek Ri yang terlihat bersahaja di pagi hari sebelum sesak oleh pembeli, hingga menemukan tumbuhan langka yang jarang dibahas lagi seperti pohon duwet/juwet dan tanaman ciplukan di area kebun/sawah yang menjadi pemisah antardusun. Rute favorit saya, tentu saja ada di Dusun Dayakan dengan paket lengkapnya: mulai dari wisata alam Sungai Boyong, edukasi peternakan, hingga pengelolaan sampah di TPS3R Brama Muda. Meski sering dilewati, selalu ada hal baru yang saya temukan ketika melambatkan langkah di sini. Jalan pagi di sekitar rumah juga memunculkan nostalgia masa kecil ketika dulu hampir semua aktivitas saya lakukan dengan jalan kaki: ke sekolah, bermain ke rumah teman, berkunjung ke rumah saudara, dan lainnya. Sekarang, saya dihadapkan pada kenyataan bahwa makin banyak perubahan yang saya sendiri pun tidak menyadarinya.

Refleksi ini membawa saya pada satu kesadaran: sering kali, kesibukan membuat kita silau oleh hiruk-pikuk dan keindahan di tempat-tempat yang jauh, hingga lupa bahwa kampung halaman sendiri menyimpan beragam cerita. Beruntungnya, di Sardonoharjo saya masih bisa menjumpai area persawahan yang subur, udara segar, dan jalur jalan kaki yang nyaman dan aman. Barangkali, rekreasi terbaik memang bukan tentang seberapa jauh kita berpergian, melainkan seberapa jeli mata kita memandang dan merawat tanah tempat kita menapak.

GOFUR SARTIKA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *