Gerobak Sapi
Gerobak sapi di Kalurahan Sardonoharjo difungsikan sebagai transportasi
tradisional yang dikembangkan seperti pada zaman dahulu. Penggunaan
gerobak sapi biasanya hanya untuk menyusuri pinggiran sawah dan desa ini
dipelopori oleh Paguyuban Pangrekso Andini Karyo (“pangrekso” artinya
merawat, “andini” artinya sapi, dan “karyo” adalah tugas sehingga nama
paguyuban tersebut dapat diartikan sebagai tugas merawat sapi). Paguyuban
ini dibentuk oleh pemilik gerobak sapi dan para peternak sapi di Kalurahan
Sardonoharjo. Meski entitas aslinya untuk melestarikan teknologi tradisional,
saat ini bergeser menjadi tren sekaligus sebagai media wisata edukasi dan
budaya di Kalurahan.
Gerobak yang dikendarai oleh bajingan (istilah untuk kusir gerobak sapi) ini
menggunakan bentuk gerobak yang sama dengan versi asli tetapi dimodifikasi
dengan menggunakan bahan yang lebih modern. Filosofi dari gerobak sapi ini
tidak lain adalah semakin besar gerobak dan sapinya maka menunjukkan
semakin hebat orang atau pemiliknya. Sapi yang digunakan untuk membawa
gerobak kebanyakan sapi Jawa berwarna putih yang melambangkan
kewibawaan dan gagah karena sapi tersebut dinilai tangguh dibanding sapi
yang lain. Selain itu, penggunaan gerobak sapi juga dibersamai dengan para
bajingan yang menggunakan lurik dan blangkon jika terdapat kegiatan bersifat
Jawa seperti kirab budaya atau festival tradisional. Eksistensi gerobak sapi
tergolong besar yang mana jika dilihat dari jumlah, Kalurahan Sardonoharjo
memiliki 10 transportasi ini dari total 80 se-Kabupaten Sleman.
